Pages

Selasa, 18 Juni 2013

Pembiayaan Perbankan Syariah Tumbuh 60%

dari metrotvnews.com

Industri perbankan syariah terus mengalami pertumbuhan tiap tahun. Pertumbuhan tersebut terjadi di semua lini, baik aset maupun pembiayaan.

Sesuai data statistik perbankan syariah Bank Indonesia (BI) per April 2013, pembiayaan naik sebesar 50,2% year on year (yoy) menjadi Rp163,406 triliun. Pembiayaan konsumsi menempati pertumbuhan terbesar yakni 59,88% menjadi Rp74,296 triliun. Ini diikuti kenaikan pembiayaan investasi sebesar 52,2% menjadi Rp29,411 triliun dan pembiayaan modal kerja 38,92% menjadi Rp59,699 triliun.



Total aset bank umum syariah (BUS) dan unit usaha syariah (UUS) tumbuh 44% dibandingkan periode yang sama tahun lalu menjadi Rp207,799 triliun. Risiko pembiayaan bermasalah (NPF) menunjukkan perbaikan menjadi 1,78%.

Bahkan, industri perbankan syariah di Tanah Air diperkirakan masih akan tumbuh kencang di tahun ini. Dengan berbagai skenario ekonomi domestik dan global, total aset BUS dan UUS akan tumbuh pada level optimistis sebesar 50% menjadi Rp296 triliun.

"Pertumbuhan pembiayaan perbankan syariah masih kencang. Pembiayaannya tumbuh 60%-an," ujar Direktur Eksekutif Perbankan Syariah Bank Indonesia (BI) Edy Setiadi usai acara Menata Industri Keuangan Mikro Syariah Indonesia di kompleks gedung BI, Jakarta, Kamis (12/6).

Seiring dengan pesatnya laju pembiayaan, likuiditas perbankan syariah mengalami pengetatan. Hal ini terlihat dari rasio pembiayaan terhadap simpanan (FDR/finance deposit ratio) yang mencapai 103,08%. Rasio kecukupan modal masih tinggi yakni 14,72%.

Menurut Edi, rasio NPF sudah terbilang tinggi. Akan tetapi, likuiditas industri masih cukup tinggi. BUS dan UUS masih dapat meningkatkan pembiayaan. "Kalau untuk BUS, FDR masih sekitar 80%. Sementara UUS tidak akan masalah dengan likuiditas sebab dia dapat disuntik modal dari bank konvensionalnya," tuturnya.

Hanya, kata Edi, pembiayaan harus diarahkan pada sektor produktif. Dia mencontohkan ke pembiayaan investasi atau modal kerja. Rasio keuangan lain terbilang baik. Misalnya, biaya operasional pendapatan operasional (BOPO) turun dari 77,77% menjadi 73,95%. Artinya, perbankan syariah semakin efisien dalam operasional. Untuk ROA sebesar 2,29% dan ROE 22,48%.


sumber

PT BPRS Buana Mitra Perwira

About PT BPRS Buana Mitra Perwira

BPRS Buana Mitra Perwira adalah Bank Syariah pertama yang didirikan di Purbalingga, dengan status Perseroan Terbatas (PT). Kepemilikan saham oleh Pemerintah Kabupaten Purbalingga (PSP) dan KSU Buana Nawa Kartika.

Subscribe to this Blog via Email :